Rabu, 07 Desember 2016

Surganya Pecinta Belanja (Pasar Beringharjo)

Surganya Pecinta Belanja


Siapa yang belum pernah atau tidak tahu Malioboro? Tentunya walaupun Anda belum pernah berkunjung ke Yogyakarta tetapi saya yakin Anda tahu tentang Malioboro karena wisata belanja ini adalah salah satu icon Yogyakarta. Tetapi kali ini saya mau bercerita tentang ujung selatan Jl. Malioboro yaitu Pasar Beringharjo. Tempat ini menjadi objek wisata yang sangat saya rekomendasikan bagi Anda pecinta wisata belanja tetapi di sini Anda juga bisa belajar tentang sejarah.
Pasar Beringharjo
Sumber : Koleksi penulis
Kali ini saya mengunjungi Pasar Beringharjo untuk melihat-lihat Batik karena Pasar Beringharjo memang terkenal sebagai pusat Batik. Lokasi Pasar Beringharjo berada di pusat Kota Yogyakarta atau tepatya diujung Jalan Malioboro atau di utara 0 km Yogyakarta. Pasar Beringharjo memang sangat ramai dan saya menyarankan Anda tidak membawa anak kecil untuk lebih aman. Saya merasa bingung di sini karena banyak sekali batik dengan berbagai model, motif, harga, dan kualitas. Harga batik di Pasar Bringharjo sangat murah, Anda bisa membeli Batik mulai dari Rp. 10.000.
Sayangnya saya mengunjungi Pasar Beringharjo pukul 15.30, jadi pasar sudah hamper tutup dan saya merasa kurang puas. Namun saya tidak kecewa karena masih banyak pedagang makanan yang menjajakan berbagai makanan khas tradisional di emperan Pasar Beringharjo. Di sini saya membeli nasi Gudeg dengan harga Rp.15.000 per porsi. Rasanya memang sungguh nikmat menikmati makanan khas di daerah asalnya.
Nah berikut adalah video untuk Anda.
Video Pasar Beringharjo
Sumber : Koleksi Penulis

Jogja Istimewa! Pesona Indonesia!



Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Yogyakarta (Museum Benteng Vredeburg)

Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Yogyakarta

 Sabtu, 12 November 2016
            Bangun pagi dan harus menikmati dinginnya air yang langsung menusuk kulit mengawali hari ini. Hari ini saya dan teman seangkatan jurusan Pariwisata Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada berencana melakukan kuliah lapangan di 3 objek wisata, yaitu Keraton, Museum Benteng Vredeburg, dan Masjid Gede Kauman. Kami harus berkumpul di alun-alun utara tepat pukul 08.00 pagi karena harus mengisi absen terlbih dahulu. Setelah semua teman lengkap dan beberapa dosen kami juga sudah hadir kami memulai perjalanan kami menuju objek wisata pertama kali yaitu Museum Benteng Vredeburg.
Nampak depan Museum Benteng Vredeburg
Sumber : Koleksi penulis
            Nah kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan saya di Museum Benteng Vredeburg. Saya sebenarnya tidak akan memberitahu harga tiket karena memang tiket dibayar oleh pihak kampus tetapi sebagai insane pariwisata saya harus member informasi ini, siapa tahu sedikit brmanfaat bagi Anda yang sedang mencari informasi tentang Musum Benteng Vredeburg. Di sana kami dipandu oleh guide dari Museum Benteng Vrdeburg dan dijelaskan tentang beberapa koleksi yang ada di Museum Benteng Vredeburg. Saya memang anaknya sedikit usil jadi saya memang kurang memperhatikan penjelasan dari guide tetapi saya malah bermain dengan rombongan anak SD. Di sana saya melihat koleksi peninggalan yang ada di sana dan tidak lupa untuk berfoto di sana. Keusilan saya dimulai lagi ketika saya melihat bule, saya mengajak bule tersebut berfoto.

            Saya merasa lelah mengelilingi Museum Benteng Vredeburg dan saya memutuskan untuk berpisah dari rombongan dan menunggu di luar. Cuaca hari itu memang sangatv terik, matahari serasa tepat di ubun-ubun walaupun waktu masih menunjukan pukul 09.30. Setelah semua rombongan selesai dan berkumpul kami menyudahi perjalanan di Museum Benteng Vredeburg dan melanjutkan tujuan selanjutnya. Di tengah jalan menuju Keraton saya tertarik dengan jajanan masa kecil saya dulu yaitu es potong. Sangat cocok untuk dinikmati saat cuaca memang sedang terik-teriknya. Nah, selanjutya adalah Keraton tetapi akan saya ceritakan di epispode berikutnya. Selamat menikmati indahnya Kota Jogja yang istimewa.
Seperti biasanya sebagai penutup saya akan menunjukan video perjalanan saya. Selamat menyaksikan.
Video perjalanan di Benteng Vredeburg
Sumber : Koleksi penilis

Jogja Istimewa! Pesona Indonesia!

Sabtu, 03 Desember 2016

Istimewanya Jogja ada di sini (Keraton)



Istimewanya Jogja ada di sini

Sabtu, 12 November 2016
            Hari ini saya melakukan kuliah lapangan di berbagai objek wisata sejarah di Yogyakarta salah satunya adalah Keraton Yogyakarta. Memang tidak jauh dari kampus karena hanya memerlukan waktu 10 menit untuk sampai di Keraton. Tetapi jalan-jalan kali ini menjadi sangat istimewa. Saya lahir di Jogja, sekolah di Jogja, dan besar di Jogja tetapi saya belum pernah berwisata ke Keraton Yogyakarta. Jadi ini merupakan first trip saya ke Keraton. Kami harus berkumpul di alun-alun utara jam 07.00 pagi, sungguh sangat berat untuk bangun dan langsung membelah dinginnya Kota Jogja. Saya memang sengaja belum sarapan dari kos karena memang ingin mencoba kuliner di sekitar Keraton. Akhirnya saya memutuskan untuk menyantap semangkok soto ayam. Sungguh nikmat sarapan di pinggir jalan sambil menikmati sejuknya udara pagi Kota Jogja ditemani semangkok soto dan the panas.
 Gambar salah satu pendopo di Keraton Yogyakarta
Sumber : Koleksi penulis
Nah setelah semua mahasiswa berkumpul akhirnya kita memulai perjalanan. Di Keraton kami dibagi menjadi beberapa kelompok agar lebih mudah dalam menangkap materi yang dijelaskan oleh guide. Saya dan kelompok saya masuk ke dalam Keraton dan melihat lihat bangunan Keraton. Kami didampingi oleh abdi dalem keraton tetapi mohon maaf saya lupa nama beliau. Beliau menjelaskan tentang beberapa bangunan di Keraton dan benda peninggalan yang ada di dalamnya. Tiba-tiba rasa lelah yang luar biasa menghampiri saya dan beberapa teman saya. Akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dari rombongan dan beristirahat di teras salah satu ruang pameran. Setelah beberapa saat kami meregangkan otot-otot kaki yang tegang, tiba-tiba ada salah seorang abdi dalem menghampiri kami dan beliau berkata dengan bahasa jawa krama“Coba njenengan mlebet ruangan mriki, mangke lukisan sing wonten dalem rak bakal tumut arahe jenengan mlaku dumugi ing papan mrika.” Kira-kira begitu yang beliau katakan.  Walaupun saya lahir dan besar di sini dan lumayan pandai dalam berbahasa jawa tetapi entah kenapa waktu itu saya mengartikan kata-kata itu. Saya mengira beliau berkata bahwa lukisan di dalam ruangan itu akan mengikuti kita sampai kemanapun kita melangkah.
Kami keluar dari ruangan itu sambil tertawa terbahak-bahak. Lelah masih menghampiri kami dan kami memutuskan untuk keluar dari Keraton dan menunggu rombongan di bawah pohon. Tiba-tiba ada salah seorang dari rombongan kami mengalami kesurupan. Dia tiba-tiba menangis dan saya pun malah menjauh karena takut. Akhirnya setelah beberapa lama dan ditolong oleh teman kami yang lainnya Ia pun kembali sadar.
Perjalanan yang melelahkan namun memang berkesan dan bermanfaat bagi saya. Banyak ilmu baru tentang Yogyakarta pada khususnya yang saya dapatkan di Keraton Yogyakarta ini. Sebelum saya tutup seperti biasa saya punya video untuk Anda, semoga bermanfaat.
Video Keraton Yogyakarta
Sumber : Koleksi Penulis 
Jogja Istimewa! Pesona Indonesia!
           

Menilik Pesanggrahan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Situs Warungboto)


Menilik Pesanggrahan Sri Sultan Hamengkubuwono II

 

Minggu, 13 November 2016 saya dan teman-teman mengunjungi salah satu objek wisata sejarah di Daerah Istimwa Yogyakarta yaitu Situs Warungboto. Lokasinya hanya tidak jauh dari Universitas Gadjah Mada, kami hanya memerlukan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai di Warungboto. Kami berangkat pada pagi hari untuk menghindari teriknya sinar matahari.
Sebagai insan pariwisata kami tidak hanya melihat dan berfoto tetapi kami juga berusaha mencari informasi tentang Situs Warungboto tersebut. Kami melakukan wawancara kepada Bapak Triharjo, Kepala RT setempat. Menurut cerita dari Bapak Triharjo, Situs Warungboto ini dulunya adalah tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono II bersama dengan keluarga kerajaan. Situs Warungboto ini dibangun pada tahun 1980-an.
Saat kami mengunjungi Situs Warungboto ternyata situs ini masih direnovasi. Kami sempat bingung mencari lokasi Situs Warungboto karena tidak adanya penunjuk jalan. Lokasinya memang tepat di pinggir jalan tetapi Situs Warungboto tidak terlihat sebagai objek wisata dan kami juga mengalami kesulitan saat akan memasuki objek wisata ini karena kami tidak tahu di sebelah mana pintu masuknya. Kemudian ada mas-mas yang menunjukan kami jalan untuk masuk ke Warungboto. 


 Gambar kemegahan bangunan Warungboto
Sumber : Koleksi penulis

 Gambar kemegahan bangunan Warungboto
Sumber : Koleksi penulis
Setelah masuk saya menjulukinya sebagai miniatur Taman Sari karena arsitekturnya mirip dengan arsitektur bangunan Taman Sari. Di sana kami mengalami kesulitan mncari toilet dan akhirnya kami menumpang di salah satu rumah warga. Kami juga mencicipi kuliner yang ada di depan Situs Warungboto, yaitu Soto Ayam dan Es Doger. Rasanya memang sama dengan soto pada umumnya, namun Anda dapat menikmatinya sambil melihat keunikan dari Situs Warungboto ini. Harga satu porsi sotonya hanya Rp. 8.000 cukup murah bukan?
Hari itu cuaca sangat panas, matahari seperti berada tepat di atas kepala padahal waktu masih menunjukan pukul 10.30. Akhirnya setelah menikmati soto kami memutuskan untuk pulang. Sungguh jalan-jalan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kami.
Untuk cerita kedua saya kali ini, saya juga mempunyai video untuk Anda. Semoga dapat menjadi nilai tersendiri bagi Anda yang sedang mencari informasi tentang Warungboto.
 
Video keindahan Warungboto
Sumber : Koleksi penulis 

Jogja Istimewa! Pesona Indonesia!

Kokohnya Petilasan Sultan (Tamansari)



Kokohnya Petilasan Sultan


Sabtu, 3 Desember 2016
            Lagi-lagi ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi tempat wisata yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal saya yaitu Tamansari. Sebenarnya hanya memerlukan waktu 40 menit dari rumah saya untuk sampai di Tamansari tetapi selama 18 tahun saya tinggal di Jogja saya belum pernah mengunjunginya. Padahal setiap akhir pekan saya selalu menyisihkan waktu untuk refreshing setelah seminggu penuh aktivitas tetapi apa daya mall dan wisata belanja Jogja mencuri perhatian saya.
            Hari ini saya penasaran dengan cerita orang tentang Tamansari sehingga saya memutuskan untuk pergi ke sana. Saya berangkat sendiri karena saya memang lebih suka jalan-jalan sendiri seperti wisatawan mancanegara yang tidak menunggu teman untuk bisa diajak. Saya pergi dari kos sekitar pukul 10.00 pagi. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dari kos saya untuk sampai di Tamansari. Kebetulan sekali cuaca hari ini mendung dan bahkan sesekali hujan turun rintik-rintik tetapi hujan tidak menghalangi niat saya untuk tetap pergi ke Tamansari. Di sana saya bingung di mana tempat parkirnya dan di mana letak pintu masuknya. Setelah bertanya kepada salah seorang pedagang akhirnya saya ditunjukan jalan yang benar.
            Setelah membeli tiket saya langsung masuk ke Tamansari, harga tiketnya hanya Rp. 5.000 dan parkir Rp. 3.000, tentu saja ini harga yang sangat murah. Awalnya saya bingung dan merasa biasa saja hanya bangunan tua. Tetapi setelah berjalan lebih lanjut dan melihat kokohnya bangunan Tamansari baru saya menyadari bahwa Tamansari memang indah dan sangat cocok untuk saya yang hobi selfie. Hampir semua pengunjung di sana membawa pasangan dan bahkan rombongan kecuali saya yang hanya pergi bersama tongsis, action cam, dan Handphone. 
 
 Gambar Pasiraman Umbul Binangun
Sumber : Koleksi penulis
 Kemegahan bangunan penuh sejarah dan saksi bisu budaya Jogja sangat cocok bagi wisatawan yang memang hobi berfoto. Setelah cukup lama melihat beberapa spot yang ada di area kompleks Tamansari di antaranya Pasiraman Umbul Binangun, Gedong Sekawen, Gedong Gapura Hageng, Gedong Gapura Panggung, dan lainnya saya merasa cukup lelah dan memutuskan untuk pulang. Sebenarnya saya hanya sekitar 20 menit di Tamansari karena memang cuaca tidak mendukung tapi cukup untuk mengobati rasa penasaran saya tentang Tamansari.
Sebagai penutup cerita hari ini, saya mempunyai video tentang perjalanan saya hari ini. Semoga dapat memberikan sedikit bayangan bagi Anda yang ingin berkunjung ke Tamansari. 

 Video kemgahan Tamansari
Sumber : Koleksi penulis
Jogja Istimewa! Pesona Indonesia!